Dirumah sakit jiwa , perasaan pasien selalu menjadi pedoman bertindak para perawat (termasuk dokter/psikiater) yang akhirnya lebih pantas disebut algojo "konsekuensi. Konsekuensi" pasien yang menangis dianggap akan bunuh diri, pasien yang marah akan dianggap agresif dan berbahaya
Marah adalah suatu bentuk perlindungan diri. Anak bayi akan menangis menunjukan agresi-marahnya untuk memastikan ibunya memberinya asi.........
Marah yang dianggap berbahaya oleh para psikiater akan dihadapi dengan kamar isolasi-suntikan yang menumpulkan otak dan memperlambat gerak tubuh seorang yang dinyatakan sakit jiwa /schizophrenia......

Click here toSebuah jeritan keluarga penderita sakit jiwa/schizophrenia :.....
Pasien jiwa/mental atau schizophrenia memerlukan kepercayaan dalam harapan dan semangat dalam hidup yang selalu harus ada didalam setiap pasien mental/jiwa disamping perawatan dan keahlian kedokteran jiwa....


Pasien jiwa/mental/schizophrenia yang menurut banyak dokter/psikiater selalu dinyatakan sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan ......penyakit yang hanya dapat dikendalikan.....penyakit yang -jika parah-jawabannya selalu adalah "kamar isolasi RS Jiwa", suntikan insulin dan suntikan obat pembodoh-otak dan pelambat-gerak...

Pasien schizophrenia yang selalu disembunyikan dari lingkungannya ............................

Pasien schizophrenia yang kerap penyakitnya tidak diterima sebagai penyakit lainnya....................

Pasien schizophrenia yang kerap dibawa berobat ke dukun dan pengobatan alternatif yang hasil dan pengobatannnya tidak pasti.......


Pasien schizophrenia yang kerap jadi korban eksperimen para dokter/ahli jiwa/psikiater .....................




. add your text.
Saatnya kita bersatu untuk mengangkat beban ini bersama-sama agar kesembuhan, Harapan dan semangat hidup yang telah menyelamatkan banyak dialami pasien mental/schizophrenia di dunia ini dapat kita nikmati bagi anggota keluarga yang kita sayangi....Amien
Tuhan berserta kita !

dito add your text.
Sign InView Entries
Komunitas keluarga penderita Schizophrenia Indonesia
Silahkan mengisi Buku Tamu kami, sebagai satu langkah menuju harapan dan semangat hidup keluarga kita yang tengah mengalami gangguan jiwa/mental/Schizophrenia, Terima kasih !dd your text.
email me
Google
http://www.mizan.com/portal/template/BacaResensi/resensiid/722
http://www.faperta.ugm.ac.id/articles/kesehatan_jiwa.pdf.

Bermula ketika Ken berusia empat belas tahun, ia mulai didatangi halusinasi dan suara-suara yang mengerikan: "Bunuh dirimu....Bakar tubuhmu....Cekik lehermu. Dunia akan menjadi lebih baik tanpamu." Alih-alih mengakui bahwa putranya mengalami gangguan mental yang serius dan mencarikannya perawatan yang tepat, orang tua Ken justru membiarkannya putus sekolah. Untuk menghidupi diri sendiri, Ken harus merantau ke New York. Di sana ia sempat menjadi sasaran eksploitasi dunia pelacuran, menjalani kehidupan sebagai tunawisma, dan akhirnya menjadi penghuni bangsal rumah sakit jiwa.

Apa yang kemudian membuat Ken mampu menaklukkan skizofrenia yang dideritanya? Bagaimana dia meloloskan diri dari kelainan mental yang nyaris merenggut jiwanya? Inilah kisah pergulatan batin Ken yang telah berjuang menjinakkan ancaman dahsyat dari penyakit skizofrenia; kisah yang mengusik pikiran, kisah yang akan mengubah cara pandang kita terhadap penderita gangguan mental.

Kasus keterbelakangan mental seperti skizofrenia yang membelenggu Ken sesungguhnya demikian menakutkan dan aneh sehingga harus disisihkan di luar garis normal. Sayangnya, hampir semua diagnosis yang diberikan untuk menyelami abnormalitas itu didasarkan pada kecenderungan perilaku dan kondisi organis tubuh. Di samping memerlukan perawatan medis seperti obat-obatan tertentu, penderita skizofrenia juga membutuhkan pembebasan dari stereotip yang mencapnya sebagai sampah masyarakat.

Cukup membanggakan ketika Ken punya khayalan: pada abad baru ini orang-orang yang berpenyakit mental akan punya pengetahuan, punya kekuatan memilih yang terorganisasi dan punya sarana untuk meninggalkan gubuk-gubuk pengasingan. Kemudian mereka akan bergabung bersama masyarakat pada umumnya, sehingga mereka dapat hidup secara mandiri, dan bukan sebagai kelompok orang yang ditakuti karena mengidap penyakit skizofrenia.

Mereka Bilang Aku Gila bukanlah cerita novel. Penulisnya juga bukan dari golongan sastrawan. Namun buku ini mengambil jalan cerita novel yang ditulis dengan sangat baik. Buku ini merekam lika-liku perjalanan hidup Ken sebagai seorang skizofren dalam menghadapi hinaan dan sumpah serapah dari "suara-suara iblis" yang misterius, juga dari lingkungan sosial akibat keanehan mental yang dialaminya.

Melalui penggambaran euforia perasaan dan detail-detail perilaku yang ditimbulkannya, kecerdasan yang tragis dan keganjilan emosi Ken mengundang kita untuk menangis, marah, lalu bertindak. Menyelami pergulatan batin Ken dalam buku ini membuat kita tergoda untuk bersimpati kepada nasib orang-orang yang tak beruntung karena terbebani oleh aneka jenis kelainan mental.

Barangkali, di antara kita juga banyak orang-orang yang menderita kerusakan mental yang terpaksa hidup di jalanan atau dalam penjara akibat mengutil, mabuk, atau karena mengganggu orang lain. Selama kita tak peduli dengan nasib mereka, maka selamanya mereka akan menjadi komunitas terpisah dari kehidupan yang sempurna.